Webinar Ilmu Pendidikan Series #8 dengan tema “Dari Lokal, Berdampak Global: Mentransformasi Pembelajaran di Era Digital”

.Webinar Ilmu Pendidikan Series #8 dengan tema “Dari Lokal, Berdampak Global: Mentransformasi Pembelajaran di Era Digital” menegaskan pentingnya mengintegrasikan potensi lokal, kearifan budaya, dan teknologi digital dalam pengembangan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Berdasarkan pemaparan kedua narasumber, budaya lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, pengalaman, nilai, dan kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi kompetensi serta produk pembelajaran inovatif.
Prof. Dr. Suwarna Dwijonagoro menekankan bahwa potensi lokal dapat dioptimalkan melalui pendekatan deep learning yang mencakup pengalaman belajar mindful, meaningful, dan joyful. Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu mentransformasikan pengetahuan serta praktik budaya menjadi berbagai media pembelajaran, seperti video, e-course, dan konten digital. Namun, penggunaan teknologi tetap perlu disertai verifikasi kredibilitas informasi dan mempertahankan manusia serta budaya sebagai sumber utama makna pembelajaran. Dengan demikian, budaya lokal berpotensi menjangkau masyarakat global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang mendasarinya.
Sementara itu, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. menekankan pentingnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis local wisdom untuk mengakomodasi keragaman karakteristik, kebutuhan, minat, kesiapan, dan latar belakang sosial budaya peserta didik. Penerapannya memerlukan pemilihan strategi, media, dan perangkat pembelajaran yang sesuai, dengan mempertimbangkan diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Pendidik juga berperan sebagai cultural broker yang menjembatani pengetahuan akademik, perkembangan teknologi, dan realitas budaya peserta didik. Oleh karena itu, kearifan lokal perlu diolah secara kritis dan kontekstual agar dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, bukan sekadar diperkenalkan sebagai pengetahuan budaya.